Saya
suka cerita. Saya suka membaca cerita.
Dulu
waktu kecil, Bapak selalu menyempatkan mendongengi saya sebelum tidur, dari
mulai Snow White and the 7 dwarfs,
Cinderella, sampai kisah 25 nabi.
Bapak
suatu hari pernah bilang,
’’Kamu
itu kalo Bapak ceritain, suka nanya sak oyot-oyotnya.”
Kenang Bapak sambil tersenyum.
Oyot-oyotnya
disini maksudnya sampai akar-akarnya, setiap cerita Bapak saya sering sela
dengan pertanyaan yang enggak ada di buku itu, sampai bikin Bapak selalu mikir
jawabannya.
Saya tidak akan berhenti bertanya sampai pertanyaan-pertanyaan itu
terjawab, atau.. sampai saya ketiduran! ((:
***
Kebiasaan
suka dengan cerita-entah itu membaca maupun mendengarkan-terbawa sampai saya
besar. Dan beberapa minggu lalu saya amat terkesan dengan satu cerita.
Jadi
di suatu masa hiduplah ulama Islam bernama Ahmad Bin Hambal atau biasa disebut Imam
Ahmad. Beliau adalah salah satu imam yang tersohor di jamannya. Imam ini
menganut prinsip ‘’Long life education’’,
kemana-mana suka membawa pena, kertas, dan tak lupa tempat tinta (mahbar) selalu
menempel pada sabuknya. Apa tujuannya? Untuk mencari ilmu (lagi). Padahal,
sudah lebih dari satu juta hadis beliau hapal.
Saat
ditanya seseorang,
‘’Sampai
kapan kamu mencari ilmu?’’
Dijawab
oleh Imam Ahmad,
‘’Saya
bersama tempat tinta ini sampai mati.’’
***
Imam
Ahmad dalam perjalanannya mencari ilmu suka melanglang buana ke berbagai
tempat. Hingga suatu hari, beliau singgah di sebuah masjid dari perjalanan
panjangnya. Niatnya untuk beristirahat di dalam masjid. Lalu datanglah takmir
masjid mengusir Imam Ahmad. Dikatakan bahwa ia tak boleh tidur di dalam masjid.
Imam Ahmad dengan rendah hatinya pindah ke emperan luar masjid, kembali, takmir
mengusir bahkan menyeret Imam Ahmad sampai ke tengah jalan, padahal hari sudah
malam.
Bertepatan
dengan itu, ada seorang lelaki tua yang melihatnya. Lelaki itu menawarkan
tempat istirahat bagi Imam Ahmad di rumahnya. Imam Ahmad akhirnya ikut dengan
lelaki itu.
Hari
sudah larut, Imam Ahmad beristirahat. Tetapi lelaki itu tidak. Ia sedang
menguleni adonan roti. Ternyata memang pekerjaan lelaki tua ini adalah tukang
roti. Ada yang aneh dari cara lelaki itu menguleni adonan. Tiap gerakan
tangannya dalam ulenan itu, disertai dengan bibirnya yang membaca istighfar,
begitu seterusnya.
Imam
Ahmad yang memperhatikan, munculah rasa penasaran, lalu bertanya,
‘’Sejak
kapan kau menguleni adonan roti sambil istighfar begini?’’
‘’Sejak lama, sejak aku masih muda.’’
‘’Apakah
kau mendapat manfaat dari perbuatanmu ini?’’
‘’Ya.
Semua yang kuinginkan terwujud. Kecuali satu hal.’’
‘’Apakah
itu?’’
‘’Aku
ingin sekali bertemu dengan Imam Ahmad sejak dulu. Tapi, belum pernah
kesampaian..’’ Jawab lelaki tua itu.
Imam
Ahmad langsung bertakbir seketika itu juga.
‘’Allahu
Akbar! Allah buat aku diusir dari masjid, lalu diseret sampai ke tengah jalan
untuk mengabulkan doamu!’’
***
Wow.
Saya speechless ketika mendengar
akhir cerita itu. Unpredictable
sekali cara Allah mengabulkan doa hambanya.
Apakah
Imam Ahmad tahu kenapa apa maksud ia diusir & diseret keluar dari masjid? Atau
apakah lelaki tua itu tahu bahwa lelaki yang ditolongnya malam-malam karena tak
punya tempat istirahat adalah orang yang paling ingin ia temui sepanjang
hidupnya?
No one knows.
Begitu.
Hanya Dia yang bisa kabulkan doa dengan cara yang tak terduga, jauh melampaui
kemampuan berpikir kita.
Ini juga
salah satu keutamaan dari istighfar, bahwa orang yang melazimkan (membiasakan)
istighfar, maka Allah akan memberinya rezeki baik dari arah yang
disangka-sangka maupun yang tidak.
We can’t rationalize every single thing,
right?
Subhanallah..
No comments:
Post a Comment