Dari Biji Jadi Oseng!

Saya sudah mem-posting cerita ini di instagram kemarin. Ini tentang bagaimana menyaksikan sesuatu tumbuh dari asalnya biji menjadi sayur.

Terus terang, ini pengalaman kedua saya menyaksikan hal yang sama. Di rumah, ibu suka sekali dengan tanaman-apapun jenisnya, mulai dari tren tanaman hias seperti euphorbia, aglonema, sansivera atau beras utah, pucuk merah, dan anggrek. Tanaman yang berbuah seperti pepaya, mangga, jeruk nipis, dan buah naga (yang terakhir ini selalu php-in ibu karena terus-terusan berbunga dan tumbuh pentil, tapi selalu failed karena cuaca Surabaya yang panas).

Tak ketinggalan tanaman yang berguna buat dapur seperti cabai, kunyit, dan pandan. Lalu ada juga melati dan lidah buaya. Karena lahan kami terbatas, tanaman-tanaman itu harus cukup puas tinggal di pot saja. Untuk mengatasi makin tumbuhnya tanaman, ibu hanya bisa mengganti ukuran pot dari mulai seukuran tempat sampah kamar menjadi seukuran tong sampah depan rumah. Ibu juga punya langganan Pak-pak penjual tanaman yang sering kider keliling jalanan rumah untuk membeli tanaman, pupuk, rabut, dan segala macam yang saya kurang ngeh.

Akhir-akhir ini Ibu lagi antusias dengan tanaman buah naganya. Ceritanya, ada teman bapak yang punya perkebunan buah naga di Lumajang. Ada ribuan tanaman buah naga disana, yang berbuah merah dan putih. Waktu main kesana, bapak dioleh-olehi tanaman buah itu, setibanya di Surabaya diserahkan ke Ibu untuk ditanam. Perbedaan cuaca yang ekstrem antara Lumajang & Surabaya harusnya membuat tanaman itu seketika mati, tapi nggak tahu kenapa tanaman satu ini terus tumbuh besar dan akhirnya sering sekali berbunga bahkan hingga tumbuh pentil! Tapi sayangnya pentil itu mrotol terus-menerus. Ibu yang paling gigit jari kalau sudah begini.

Kita lupakan buah naga. Banyak orang bilang tangan ibu saya ‘adem’. Maksudnya? Ada orang-orang tertentu yang katanya tangannya cocok dengan tanaman, yang kalau nanem & ngerawat apa-apa langsung bisa jadi-tumbuh-bahkan berbuah. Beliau salah satunya.

Lihat betapa tanaman cabai di rumah saya banyak buahnya, papaya juga suka berbuah (walaupun kecil), euphorbia yang awalnya seukuran botol aqua jadi hampir setinggi adek saya, dan keajaiban lain yang terjadi. Poinnya adalah Ibu orang yang telaten ngeramut tanaman hingga sampai jadi.

Beda dengan saya yang rekor terbaiknya adalah meramut tanaman yang saya beri nama ‘pericil’ yaitu sejenis tanaman hias yang daunnya seperti daun pakis, tapi tebal, berwarna hampir semuanya perak, tragisnya ia berakhir di minggu ketiganya hidup.

Saya nggak ngerti apa yang salah, setiap hari juga disiram sepertinya.

Setelah kejadian dengan pericil, saya malas berurusan dengan tanaman-trauma! Biar Ibu sajalah.. x)
***
Awal atau pertengahan Februari lalu, tepatnya hari Jumat ada beberapa teman saya yang mengajak ikut acara tanam-menanam di kosan saya. Kebetulan ada lahan yang lumayan luas & bisa dimanfaatkan untuk urban farming (ceilah!). Ada mas-mas yang datang ke tempat kami & membawa contoh kliping settingan urban farming yang hits itu. parahnya foto-foto itu sukses bikin kami ngiri-lucu-lucu semuanya! Pot-pot diletakkan secara vertikal untuk mengatasi keterbatasan lahan. Tanaman-dari mulai kangkung, cabai, dan tomat menggantung menggiurkan dari dalam pot-pot itu. Saya yang sebenarnya-not that-enthusiast jadi seneng aja melihatnya. Membayangkan kalau lahan disini jadi selucu itu (:

Akhirnya kami bagi tugas. Ada yang bagian ambil pupuk kompos ke unit pengolahan pupuk di dekat PNJ, ada yang stay untuk menggarap tanah. Saya kebagian mengambil pupuknya.

Tempat pengolahan pupuk sangat nyelempit. UI & PNJ berada di sebuah area sangat luas-sekitar 10 Hektar-dan masih banyak danau serta hutan di dalamnya. Unit itu berada di belakang PNJ-sebuah tempat yang dari luar seperti pabrik biasa-yang baunya lumanyun (:

Sampai disana kami mengisi buku pengambilan pupuk, dan disambut bahagia oleh bapak-bapak petugas pupuk.

Ternyata pupuk ini murni dari alam. Wew. Setiap hari, di UI yang seluas itu ada banyak daun berguguran beserta rumput yang dipotong rapih. Itu bahan utama dari pupuk ini. setelah sampah organik dikumpulkan, lalu masuk ke mesin pencacah besar. Hasilnya?
Gundukan daun yang siap didiamkan untuk proses pembusukan alami dengan ditambah campuran rumput basah. Di setiap gundukan itu ada label tanggalnya-yang baru bisa disebut pupuk ketika berusia 2-3 bulan.

Wah, saya baru ngerti.

Ketika pupuk sudah jadi, dikemasnya dalam bentuk karung-karung putih semacam karung beras dan siap dipakai lagi untuk mupuki tanaman lain. Subhanallah...
Saya sadar bahwa saya salah kostum saat mau menaikkan pupuk ke motor. ‘Oke, tadi harusnya pakai celana’ batin saya.

Bayangkan saja 2 cewe bergoncengan-yang nyetir pakai rok-membawa 2 karung pupuk dengan motor-maticnya.

Kaki saya sampai tidak bisa nempel ke dasaran motor karena tempat sudah kemakan oleh pupuk. Untung jarak unit pengolahan pupuk tidak jauh dari kosan.

Sesampainya di kosan, kami langsung bekerja lagi. Para lelaki menggali-macul tepatnya-lalu membentuk tanah sampai siap disemai benihnya.

 From Zero to Hero


Penampakan saat masih kecil 



Saya kebagian menabur benih bayam. Bentuknya kecil-kecil seperti manik-manik hitam. Ada teknik tertentu dalam menabur benih, kalau kangkung dibuat lubang seukuran jempol, diisi benihnya, lalu ditutup. Berbeda dengan bayam yang langsung tebar sesuka hati.

Keesokan harinya hujan turun lebat sekali, derasnya sampai membuat tanah galian kami nggak cantik lagi seperti kemarin. Kami was-was kalau saja benih yang ditanam hilang termakan hujan. Dan itu berlangsung selama kurang lebih 2 atau 3 minggu sejak kami menanam. Sedih ):

Ternyata hujan malah membawa rahmat! Buktinya tanaman kami bisa survive dan tumbuh cantik. Alhamdulillah.. hingga pada suatu hari, teman saya, Irma, diberitahu Bapak-bapak kalau itu sudah siap panen.

Kangkung & bayam jadi kloter pertama. Mereka berakhir cantik di piring kami sebagai oseng kangkung dan sayur bayam. Tanaman organik & dimasak tanpa MSG!Terrific!

Betapa bahagia itu sederhana ya, dari menyaksikan tanaman itu wujudnya biji, tumbuh tunas, jadi besar perlahan, tumbuh daun dan batang-hingga siap panen, dan siap dimasak hingga berakhir di perut kita.. Ulalaa :9
 Bucket Bayem, why not? :p


‘’Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan, Nak?’’ :)




No comments:

Post a Comment