Well,
pagi tadi saya membuka instagram. Ada sebuah gambar dan caption lucu dari
seorang teman.
Gambar itu resolusinya buruk sekali, sepertinya diambil
dengan kamera berjenis VGA yang ngetren di jaman saya SMP, sekitar tahun 20xx
(menyembunyikan umur! haha X)). Gambar itu dengan aksen blur-blur dan backlightnya menampilkan seorang anak
laki-laki berseragam SMP-bawahan celana biru dongker dan atasan batik
sekolahan-sedang duduk di kursi dengan kaki diangkat ke atas meja. Lalu tangan
bocah itu menopang kepalanya macam turis sedang berjemur di pantai.
Captionnya sederhana,’’Kangen jaman SMP saat musuh
terbesarku hanya guru BK yang tiap Senin memeriksa apa warna kaus kakiku dan
seberapa tingginya.’’
Membacanya saya hanya senyam-senyum imut, lalu flashback ke jaman SMP saya. Kami punya musuh
yang sama, satu sosok killer yaitu guru
BK dan guru olahraga. Masalah kami juga sama, seberapa tinggi kaos kaki sewaktu
sekolah dan satu lagi tambahan saya : jenis sepatu.
SMP saya adalah SMP negeri yang penuh aturan ini-itu.
Dari mulai tebalnya rambut siswa laki-lakinya hingga tingginya kaos kaki kami. Lebih
dari itu, jenis sepatu pun sampai diatur! Olala..
SMP tempat saya bersekolah selama 3 tahun itu
mengharuskan tiap siswanya memakai sepatu pantofel khas orang kerja dengan
warna harus hitam tanpa atribut garis atau warna apapun. Saat kelas satu, saya
sih nurut-nurut saja. Euphoria masuk ke sekolah itu rasanya besar sekali.
Hingga
sampai saat kelas 2 saya masih tetap ikuti aturan sepatu.
Sampai akhirnya saya bosan dan berganti-ganti model sepatu,
meskipun tetap pantofel.
Masalah saya dengan guru BK dan olahraga terjadi di suatu
Senin yang cerah saat Upacara Bendera. Saya kebetulan memakai sepatu yang xoxo, masih pantofel tapi modelnya
bolong-bolong dibagian atas, aksennya memang begitu. Saat itu guru olahraga
mulai masuk ke barisan.
‘’Itu Pak Gatot ngapain?’’
Anak-anak terdiam. Pura-pura fokus upacara, padahal
males. Lalu tiba-tiba, ia sudah ada disamping saya dan berkata,
‘’Ayo sini sepatunya lepas satu!’’
Saya yang masih bingung cuma bisa angkat satu kaki, lepas
sepatu, menyerahkannya ke Pak Gatot. Lalu si Bapak bilang,
’’Nanti ambil sepatu kamu sepulang sekolah ke BK, dan
jangan dipakai lagi!’’
Saya, murid SMP cupu-bersepatu satu, bubar upacara
maluuunya minta ampun. Teman-teman saya pada ngikik diam-diam atau
terang-terangan, nunjuk kaki saya yang telanjang satu. Duh! Malunyaa..
Sudah terlanjur basah, saya sekalian nyemplung saja. Saya
copot satu sisi sepatu lagi, dan berjalan bak pahlawan kesiangan (padahal
malunya mati-matian) menuju kelas.
Dan, sepanjang hari itu saya habiskan sisa waktu dengan
mendekur di kelas. Habisan mau kemana-mana enggak ada sepatu sih. Saya dongkol
habis-habisan pada guru olahraga dan guru BK saya. Kedongkolan saya bertambah
karena sepatu itu masih baru beberapa minggu saya beli, eeh udah disita ajaa..
Bel pulang akhirnya berbunyi. Saya menunggu sekolah agak
anteng dulu baru ke ruang BK (biar gak tambah malu!).
Di ruang BK sudah ada ibu-ibu guru cantik duduk manis di
mejanya. Saya sowan dan mau ijin ambil sepatu.
‘’Kamu kan tahu aturan sekolah kita harus pake pantofel
yang bener, warna hitam dan ga model-model. Lain kali pake sepatu yang benar,
besok sepatu itu tidak boleh dipakai lagi ya!’’ Ceramah guru BK saya.
‘’Sekarang ambil sepatunya di kardus itu.’’
Ternyata ada banyak satu sisian sepatu yang mendekam di
kardus itu. Saya bukan satu-satunya bocah malang di hari ini. Saya kemudian
mengambil sepatu, memakainya, dan segera kabur dari tempat yang paling
dihindari anak-anak satu sekolah : ruang BK.
Fiuh.. lalu saya bisa berjalan dengan kepala tegak
kembali pulang. Dadah sepatu baru, mungkin kamu lebih cocok buat jalan-jalan
daripada ke sekolahan.
***
Haha, kalo rerun
momen itu saya kembali ngikik. Benar kata teman saya dalam caption itu, ’’Kangen jaman SMP saat musuh terbesarku hanya guru BK
yang tiap Senin memeriksa apa warna kaus kakiku dan seberapa tingginya.’’
Saat SMP masalah terbesarmu hanya sekolah dan
dramatikanya yang kalau diingat-ingat bikin ngikik dan ngakak. Nah kalo
sekarang? Bye-bye lah guru BK & guru olahraga, karena ternyata ada yang
lebih besar daripada kalian, Pak, Bu.
Anyway,
mungkin sepuluh tahun lagi saya juga akan ngakak dan ngikik dengan masalah saya
di tahun-tahun ini. Sama dengan ngikiknya saya sekarang jika mengingat masalah
saya waktu SMP. Time flies dan kita
bakal menghadapi masalah serta tantangan yang lebih besar hingga kita bisa
menganggap betapa ‘piece of cake’nya
masalah kita diwaktu-waktu dulu.
Semoga apa yang telah kita lewati membuat kita jadi makin
dewasa dan stay cool dalam menghadapi
tantangan hidup berikutnya. Semoga.
No comments:
Post a Comment