Hai,

Hai. Salam kenal. Aku puteri dari seberang. Mari kukenalkannya padamu.

Aku terlahir di kota matahari, yang sengatnya panas sekali. Kata mereka matahari di kotaku galak-galak. Sekali dia menyengat maka sinarnya menembus kulit, hampir masuk ke tulang tapi dihalagi daging.

Mereka juga mengatakan bahwa kotaku kota yang kasar.  Banyak umpatan-umpatan yang membikin mereka bergidik. Padahal, menurutku umpatan itu hanya ada satu, tapi berguna untuk segala macam situasi, ketika kau sedih, senang, kecewa, terkejut, dan marah.

Ada yang bilang bahwa kotaku heroik. Pada tanggal tertentu di masa lalu terjadi peristiwa berdarah-darah antara sinyo-sinyo berhidung bangir itu dengan rakyat kami yang jelata. Senjata yang beda kasta bukan alasan untuk kalah, bukan?

Aku sedikit banyak mengenal kota dimana aku dibesarkan, meskipun aku masih sering tersasar. Maklum, aku suka lupa jalan. Tapi itu tak megurangi kecintaan.

Kini aku beratus kilo jauhnya dari kota itu. Untuk kembali aku butuh yang terbang di udara, yang ngebut di jalanan, atau yang berjalan diatas relnya sendiri.

Kadang aku merasa rindu dengan sengat mataharinya, umpatan cak-cuknya, keheroikan sejarahnya, dan tersasarnya aku pada jalan-jalanannya.

Aku rindu pada bahasa-bahasa terbuka yang kadang diutarakan secara sporadis oleh penduduknya. Tanpa basa-basi mereka berkata, langsung melompat pada isi tanpa preambule-nya.

Duh Gusti,

aku sudah rindu lagi,

padahal mungkin masih beratus hari lagi akan kembali.


No comments:

Post a Comment