Senin
lalu, seperti biasa, saya melewati jembatan penghubung antara Halte Stasiun UI dan
Barel. Jembatan ini dinamai jembatan ‘’aborsi’’. Saya engga tahu filosofi
dibalik nama ini, yang jelas nama ini seram sekali dan saya kurang sreg saja
dengan penamaan itu, konotasinya negatif banget.
Kenapa
dinamai jembatan aborsi? Saya duga karena ukuran anak tangga ini super sekali,
tingginya melebihi standar normal. Kata teman saya yang anak Teknik Sipil,
‘’Standar
normal tangga tuh 20 cm, Mba.’’
Meskipun
saya engga ngukur pakai penggaris, tangga aborsi sepertinya memang melebihi
standar. Akibatnya banyak orang yang terengah-engah sehabis melewati tangga
yang jumlahnya 90 undakan itu.
Saya
engga akan membahas nama tangga yang agak absurd ini, tapi yang membuat saya
tertarik adalah kejadian yang saya temui di hari Senin lalu.
Sore itu saya pulang dari kampus dengan menaiki Bis Kuning (Bikun), kebetulan halte sedang
sangat ramai karena saat itu jam-jam pulang kuliah dan kantor. Lalu saya melewati jembatan yang seram-seram-sedap sambil
menguatkan kaki diri. Setelah menaiki beberapa anak tangga, saya melihat
ibu-ibu berusia sekitar 50-60 tahunan sedang menjinjing sebuah travel bag berukuran
tanggung di tangan kanannya.
Ibu
ini kepayahan sekali meniti anak tangga. Setiap naik 3 anak tangga, beliau
berhenti sambil berpegangan pada pinggiran tangga, lalu naik 3 anak tangga lagi, beliau berhenti lagi. Saya yang menggendong ransel berisi laptop saja
sudah lumayan ngos-ngosan, apalagi ibu itu yang membawa bawaan yang lebih besar daripada saya.
Di sela
berhentinya si Ibu, datanglah seorang Mba-mba, sepertinya mahasiswa tingkat
akhir atau mungkin sudah bekerja. Ia menawarkan bantuan buat si Ibu.
Mba berjilbab itu
tersenyum sebentar lalu menawarkan bantuan sambil menjinjing travel bag si Ibu. Ia memimpin di depan
tanpa kepayahan-sesekali menengok si Ibu dari depan-sembari memelankan langkah,
berusaha mengimbangi kecepatan jalan si Ibu. Sementara si Ibu yang sekarang tanpa beban, berjalan pelan di belakangnya. Meskipun masih terengah-engah, si Ibu bisa lebih mudah
mendaki-menuruni anak-anak tangga itu.
Selepas
anak tangga terakhir, si mba menyerahkan tas pada ibu dan pergi, masih dengan
senyum yang sama saat menawarkan bantuan.
Engga
tahu kenapa, saya senang melihat kejadian sore itu. Orang-orang seperti si Mba masih
punya ruang untuk mengulurkan tangan pada yang sedang kesusahan.
Biasanya
jam-jam pulang kantor begini bisa membuat kita makin nafsi-nafsi, mikirin diri sendiri, bodo amat sama urusan orang
lain, tapi this kindness spirit still
exist, meskipun cuma di tangga aborsi dan sekedar membawakan travel bag.
Saya senang melihatnya.
Semoga
di tangga-tangga lain, kebaikan yang sama bisa lebih banyak tersebar tanpa
memedulikan apakah ini jam pulang kantor-jam masuk kantor-jam pulang kuliah
atau jam masuk kuliah. Semoga kita kita bisa punya ruang lebih untuk berbagi, seperti si Mba.
Semoga..
No comments:
Post a Comment