*Sambungan tulisan sebelumnya
Jika anda adalah seorang milyarder yang memiliki banyak perusahaan berprofit besar, menyentuh huruf M bahkan T, dan anda tinggal di suatu negara dengan rate pajak yang cukup tinggi, konsekuensi logisnya adalah anda harus membayar pajak tinggi pula.
Jika anda adalah seorang milyarder yang memiliki banyak perusahaan berprofit besar, menyentuh huruf M bahkan T, dan anda tinggal di suatu negara dengan rate pajak yang cukup tinggi, konsekuensi logisnya adalah anda harus membayar pajak tinggi pula.
Pertanyaannya
: Apakah semua pengusaha rela membayar pajak tinggi untuk diberikan kepada negara?
Saya
rasa tidak.
Maka
dari itu, wajar apabila tax haven
countries menjadi penolong bagi para pengusaha yang ingin ‘mengamankan’
duitnya dari potongan pajak dari negara.
Sementara
itu, dapat dilihat bahwa ada berjuta-juta buruh dan pekerja outsource yang hidupnya dihimpit 11P :
Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-pasan (di) Potong Pajak Pol-polan!
Mereka
yang keringatnya paling deras mengucur dan paling banyak populasinya. Mereka
yang rela jadi pindang dalam sesaknya KRL, bau asap kopaja, jadi kutu loncat
angkot, atau biker tahan banting untuk
bekerja.
Paradoks
memang.
Para
pekerja itu gajinya secara otomatis dipotong oleh perusahaan tiap tanggal muda.
Itu mekanisme yang tidak bisa mereka hindari. Mau ngemplang pajak darimana?
Sementara,
mungkin bos-bos mereka adalah satu diantara 800 orang yang namanya tercatut
dalam Panama Papers, orang-orang yang
mengamankan harta mereka dari pajak-sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh
pekerja kelas bawah.
Pajak?
Saya
bukan Duta Pajak Indonesia, bukan. Tapi saya melihat adanya inequality atau ketidakadilan disini.
Marilah kita buat sederhana.
Jokowi
semenjak kampanyenya menjanjikan perbaikan infrastruktur untuk kemajuan
Indonesia, kita tahu itu bersama. Kampanyenya itu sekarang tengah
direalisasikan dengan dibuatnya banyak proyek pembangunan Infrastruktur yang
lazim ditemukan di berbagai wilayah. Sebut saja pembangunan bendungan di Raknamo,
Nusa Tenggara Timur, Tol Trans Sumatera, New Makassar Port, Jembatan Teluk Kendari, dan masih banyak lagi.
Apa
tujuan Jokowi yang begitu ambisius dalam pembangunan proyek-proyek tidak murah
tersebut?
Kesejahteraan
masyarakat Indonesia melalui kemudahan akses dalam kegiatan perekonomian.
Jelas,
itu semua butuh dana yang besar.
Apa instrumen
pemerintah dalam mengumpulkan dana tersebut? Salah satunya kebijakan fiskal
dengan pajak.
Jadi,
secara tidak langsung pembayaran pajak yang dilakukan ini juga untuk
pembangunan Indonesia, bukan?
Siapa
yang akan menikmati kemudahan akses Jalan Tol Trans-Sumatera, New Makassar Port, dan Jembatan Teluk Kendari? Rakyat
Indonesia juga, kan?
Sederhananya,
kita membayar pajak sebagai bentuk patungan untuk kebutuhan kita sendiri.
Jika
ada kasus pengemplangan pajak yang dilakukan oleh para pengusaha bahkan
politikus kelas kakap sehingga mereka dapat melenggang bebas, tidak perlu
membayar pajak, sementara mereka juga ikut menikmati fasilitas yang disediakan
pemerintah atas kontribusi pajak tersebut,
sedangkan
buruh dan pekerja kelas bawah banting-tulang yang terus menerus disedot penghasilannya
untuk pajak, maka dimana letak keadilan?
Saya
bukan tax-maniac-atau apalah itu,
tapi, saya mempertanyakan dimana letak keadilan ketika kita sama-sama memakai
fasilitas secara kolektif tetapi dengan kontribusi yang dimanipulasi semacam penghindaran
pajak.
Saya mempertanyakannya.
No comments:
Post a Comment