Pagi ini saya mendapat sebuah chat dari official account
BEM fakultas saya. Isinya tentang isu yang sedang ramai diperbincangkan
beberapa waktu ini : Panama Papers.
Jujur, saya jarang sekali mendengar nama Panama disebut
di headline koran atau acara berita
pagi di televisi. Negara dunia ketiga yang terletak di Amerika Selatan ini relatif kurang terkenal dibanding negara sejenis
seperti Meksiko yang terkenal dengan kartel narkoba internasionalnya, Kuba yang
terkenal dengan sejarah dan Castro bersaudaranya, atau Venezuela dengan
presiden idealisnya. Panama masih kalah pamor dengan negara-negara diatas.
Tapi, akhir-akhir ini, Panama jadi media darling dunia karena sebuah paper. Who expect these?
Untuk recall,
marilah kita cukil beberapa informasi yang disarikan secara apik oleh Departemen
Kajian dan Aksi Strategis BEM fakultas saya.
Panama
papers ini adalah suatu dokumen berisi data-data milik Firma
Hukum terbesar keempat di dunia, Mossack Fonseca. Dokumen ini berisi layanan
Mossack Fonseca yang diberikan pada kliennya, utamanya soal pendirian
perusahaan offshore yang mayoritas
didirikan di tax haven countries
(negara surga pajak) seperti Swiss, British Virgin Island, Siprus, dan Panama
tentunya.
Offshore
Company?
Masih menurut kajian ini, perusahaan offshore dinyatakan sebagai perusahaan yang didirikan di luar
negeri. Setelah proses administrasi pendirian perusahaan dibuat, maka
ditunjuklah seorang direktur utama perusahaan yang akan tercatat di dokumen
tersebut dan hal ini membuat identitas asli pemilik perusahaan offshore tidak dapat terungkap ke publik.
Apa yang ditawarkan Mossack Fonseca adalah proses
administrasi berikut menjaga kerahasiaan pemilik asli perusahaan.
Panama adalah salah satu tax haven countries dengan regulasi pajak yang sangat bersahabat
bagi para foreigners. Panama
menetapkan pajak yang sangat rendah, atau bahkan bebas pajak bagi foreigners atau perusahaan dari luar
negeri yang mengelola aset di dalamnya. Maka dari itu, tax haven countries amat sangat diminati bagi orang-orang kaya di seluruh
duniaterutama yang berasal dari high-tax countries seperti Perancis,
Finlandia, dan Denmark.
Panama
Papers adalah sebuah dokumen biasa. Yang membuat Panama Papers luar
biasa-sampai menggegerkan dunia-adalah tercatutnya nama politikus, pemimpin
dunia, pengusaha, bahkan atlet yang ternyata bekerja sama dengan Mossack
Fonseca dalam pendirian perusahaan offshore,
di tax haven countries pula.
Terbayang apa motifnya?
Jelaslah bahwa mereka ingin menghindari pemotongan pajak
yang cukup tinggi dari negara asalnya. Kalau negara mereka ramah pajak, mengapa
mengindar? Mekanismenya cukup dilogika saja. Mereka dapat mendirikan perusahaan
offshore dengan bantuan Mossack
Fonseca lalu mengalirkan dana ke perusahaan ‘bodong’ tersebut dan selanjutnya
tinggal firma hukum itulah yang diam cantik dan menjaga uang-berikut kerahasiaan
pemilik sebenarnya-dari publik.
Pemerintah Panama juga enteng-enteng saja karena dengan banyaknya aliran dana yang masuk ke Panama, malah membuat stabilnya perekonomian
negara tersebut. Tak peduli itu uang siapa, di dapat dari mana, dan untuk
keperluan apa. Mereka anteng.
Hebatnya, skandal ini sudah banyak mengguncang dunia, seperti demonstrasi besar-besaran yang dilakukan warga Islandia karena Perdana
Menteri mereka diketahui memiliki sebuah perusahaan offshore atas nama istrinya-dengan bantuan Mossack Fonseca. Belum
lagi kasus yang juga menjerat Vladimir Putin, PM Rusia.
This
paper scares the world.
Imagine
if you are the president of a country, then you keep sounding how important to
pay taxes for your nations’ economic prosperity, and so on, but the fact states
that it is you the one who embezzle your
personal tax. Ironic.
Tragisnya, kerahasiaan identitas pemilik perusahaan offshore yang terafiliasi dengan Mossack
Fonseca ini dapat diretas dengan mudah oleh hacker
melalui email perusahaan sehingga paper berisi 11,5 juta dokumen ini bocor
ke publik.
‘’Their system has been outdated.’’
Tukas Forbes.
(*) To be
continued..
Dicukil dari : Panama Papers : Sebuah Rahasia Publik yang Bocor oleh
Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UI 2016. April 2016.
No comments:
Post a Comment