Rejeki
bisa jatuh pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun.
Siang
tadi saya lihat ada bocah lelaki di pinggiran stasiun Pondok Cina (Pocin) yang sedang duduk lesu menunggu dagangan tisu dan maskernya. Bocah itu saya duga
berusia 10 atau 11 tahun, badannya termasuk gemuk, pipinya gembul, kulitnya sawo
matang, dan rambutnya sebelas-dua belas dengan karat pada besi (kalo orang Jawa
bilang teyengan)-entah karena sengaja
disemir atau lamanya terpapar sinar matahari (intuisi saya mengatakan karena
alasan kedua).
Sore
itu jam bubaran kuliah dan kantor, jadi Pocin ramai dengan lalu lalang motor
dan orang.
Bocah tadi melipat lutut dan menenggelamkan wajah kedalamnya.
Mungkin ia sedang lelah.
Tak lama kemudian,
datanglah seorang ibu-saya duga berusia 35 tahunan-berbaju biru tua, senada
dengan kerudung dan celananya, besepatu pantofel, menenteng tas selempang yang
juga biru. Wajah si ibu putih bersih dengan sisa make up masih menempel di wajahnya-sepertinya baru pulang kantor.
Si ibu menenteng sebuah styrofoam pembungkus
makanan dan berjalan cepat ke arah bocah tisu tadi. Dengan gesit ia langsung
menyerahkan bungkusan itu dan kembali berjalan cepat ke arah stasiun. Bocah
tadi menerima dengan sukacita, belum sempat mengucap terima kasih, si Ibu sudah
ngeloyor pergi.
Tak
kalah gesit, bocah ini langsung membuka styrofoam,
membuka sachet saus dengan gigi, dan mulai
melahap makanannya. Saya duga isinya ayam-dari potongan kulit krispi yang ia
sendokkan ke mulut. Ia makan dengan lahap tanpa menoleh kanan-kiri. Matanya tak
lagi berfokus pada tisu dan masker, tapi teralihkan ke nasi dan ayamnya. Bocah
tadi sumringah-begitu pula orang-orang yang melihat kejadian barusan.
Rejeki
tidak akan tertukar. Bahkan ketika berbentuk nasi ayam goreng krispi untuk bocah penjual tisu
dan masker yang sedang lesu di dekat Stasiun Pocin..
No comments:
Post a Comment