Proses.
Haha..
akhir-akhir ini saya sering mendenger kata proses. Well, apasih proses? Yang saya tahu, beras perlu diproses dulu biar
jadi nasi uduk enaknya pak kosim ha-ha.
Oke,
proses kalo dalam sepengetahuan saya itu adalah aktivitas bernilai tambah yang
menjadikan input berubah jadi output. Say beras jadi nasi diproses dengan di tanak, ikan mentah jadi ikan
goreng diproses dengan di goreng, buah alpukat jadi jus diproses dengan di
blender. Lho kok makanan semua sih? Ha-ha.
Intinya
proses itu yang akan menjadikan sesuatu memiliki value-added lebih, jadi barang yang lebih bermanfaat jika dinikmati
dan barangkali lebih mahal jika di jual, kalau konteksnya barang dagangan. Dengan
proses, sesuatu jadi lebih berharga.
Sekarang
bagaimana kalau dikaitkan dengan manusia?
Klise
sih, proses. Kali ini proses membaik. Bukan dulunya buruk, tapi masih belum
begitu baik. Standar baiknya? Sesuai prinisip masing-masing.
Mungkin
yang dulunya berego tinggi, mulai bisa menekan ego dan lebih toleran dengan yang
lain. Mungkin yang dulunya tidak peduli mulai bisa lebih care sama yang lain. Mungkin yang dulunya suka emosi, sekarang jadi
lebih sabar.
Itu input-output yang terjadi melalui
serangkaian proses yang tidak sesederhana ikan matang dengan di goreng, jus
tersedia dengan di blender, atau beras jadi nasi dengan di tanak. Bukan, lebih
kompleks lagi dari itu.
Tiap
orang punya model I-P-O
(Input-Process-Output) masing-masing, lengkap dengan tempo dan kisah
dibaliknya.
Nah
pertanyaan berikutnya adalah, pada lingkungan seperti apa sih proses bisa tumbuh
dengan subur?
Sama
seperti bibit tanaman, katakan sawi, bibit sawi bisa tumbuh di lingkungan baik,
subur, hal ini bisa dilihat dari humus, kadar air, intensitas penyinaran
matahari, jenis tanah, dan hal lain.
Lalu?
Proses bisa berjalan baik ketika lingkungan sekitar juga mendukung berjalannya
proses tersebut dengan sikap akomodatif, terbuka, suportif, dan toleran.
Kenapa
toleran? Karena dipastikan orang yang berproses akan melakukan kesalahan dan untuk itu dibutuhkan lingkungan yang
memiliki toleransi untuk memaafkan, lalu akomodatif dalam melakukan perbaikan,
terbuka ketika ada masukan, dan suportif ketika orang tersebut merasa sudah
lelah dalam berproses.
Well,
semoga tiap orang punya model I-P-O nya masing-masing dan juga difasilitasi
dengan lingkungan yang mendukungnya untuk berproses, karena membaik bukan hal
yang tidak mungkin bukan? (:
No comments:
Post a Comment