Rendah Hati Tanpa Embel-Embel

Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, saya sempatkan nonton tv dulu, sudah sejak seminggu terakhir saya nonton ini acara. Pemandunya seorang ustad tersohor, judul acaranya saya lupa hehe. Yang jelas acara ini rutin tayang setiap hari Senin-Jumat jam setengah 6 pagi.

Nah, waktu itu sang ustad membahas tentang kerendahan hati. Dengan gaya bicaranya yang lepas dan mengalir dia menerangkan hakekat kerendahan hati dengan sangat sederhana. Indah.  Dia berkata bahwa Allah, yang punya jagad raya seisinya ini benar-benar rendah hati sekali, buktinya? 


Lihat, di Surat Al-Fathihah yang merupakan ummul Quran, Allah menyatakan bahwa Dia Maha Pengasih dan Penyayang di awal, di lafadz Bismillahirrahmanirrahim. Hanya itu, sesederhana itu. Allah tidak menyatakan bahwa di yang merajai seluruh jagad di awal. Dia tak berfirman bahwa di yang Maha Esa, Maha Kuasa di awal. Dia menyatakan Bahwa dirinya Maha Pengasih dan Maha Penyayang saja. Betapa Agungnya Allah, Dia mengajari kita untuk menjadi mahkluk yang sederhana dan rendah hati.

Bukankah memang seharusnya kita begitu? Apa yang menjadi lambang supremasi kehebatan diri kita macam harta kekayaan, kepintaran maupun kelebihan fisik itu semua cuma titipan saja kan? Apa pantas kita membanggakan, menyombongkan sesuatu yang cuma titipan? Enggak kan.Yang memberi saja, yang menguasai jagad, yang dengan kekuasaannya memberi kita titipan ini telah mengajari kita kerendahan hati kok. Sebagai manusia yang cuma dititipi, kita wajib menjaga amanah tadi, tanpa embel-embel tinggi hati. Lha wong cuma titipan.

No comments:

Post a Comment