Our Blind Spot

Aku tahu kalau mata milikku dan milikmu dan milik yang lain hanya ada dua. Yang dengannya kita bisa melibas habis indahnya dunia. Hijaunya pepohonan di jalanan kampus, orensnya kembang yang menggerumbul di parkiran fakultas, abu-abu tuanya aspal, cokelatnya genangan air pasca hujan dan mungkin hitam atau cokelatnya kedua bola mata milik kamu dan kamu yang belum dapat aku pastikan.

Aku juga tahu bahwa nikmat penglihatan yang ku dapat dari kedua mata ini bisa membuatku menangkap sinar kelelahan yang ditampakkan Bapak-bapak pengemis di sepanjang jalanan balik rel, kebosanan ibu-ibu penjaja buku, keantusiasan para musikus jalanan yang menggesek biola usang, serta kedataran wajah pengamen jalananan ber-wig kribo dengan setelan ajaibnya.
Aku tahu kamu kamu juga melihatnya dengan kedua mata itu.
Aku tahu.
Kamu bisa melihat segala yang aku bisa, pun begitu sebaliknya, karena kita diberi karunia yang sama.

Namun.
Ada satu yang aku menyerah terhadapnya.
Aku tidak buta, memang. Aku bisa melihat kesemua dengan jelas.

Tahukah kau bahwa ada yang disebut dengan titik buta? Orang barat menyebutnya ‘blind spot’, suatu titik yang takkan kau bisa lihat dengan kedua matamu saja.
Titik buta itu terkadang tak mengizinkan dirimu sendiri melihat dengan jernih, banyaknya bias. Kamu akan terlihat sah dan baik-baik saja. Kamu baik dan sudah itu.
Titik butamu membius. Sehingga seakan kau tak sadar bahwa kau tak sebaik itu. Kau bercacat tapi kau tak bisa sepenuhnya melihat. Bukankah itu hal tersedih dari seorang yang memiliki pengelihatan sempurna?

Ini kisah aku dan kamu-kamu.

Aku memiliki titik butaku, pun juga kamu.
Aku tak bisa melihat titik butaku sendiri dengan jernih, maka itu aku butuh kamu dan kamu.

Cobalah sekedar membuka mata kamu kamu untuk mengamatiku. Pada apa yang aku merasa baik-baik, pasti ada celah dimana baik tak selamanya baik. Tolong temukan bias pada baikku agar aku mampu benar-benar membaik dengan baik.

Bantu aku tersadar dari kemungkinan bius parsial ini.
Aku tahu mungkin tidaklah mudah bagimu untuk mengutarakan celah dibalik baikku, kamu pasti enggan dengan beragam alasan.
Entah karena budaya kita mengharuskan untuk diam jika ada yang ingin dikatakan, menjaga perasaan, katanya.
Entah karena kamu benar-benar bosan dengan celah yang sudah bertahun-tahun kupertahankan dan membuatku tak sadar, cari pembenaran, katanya.  
Entah karena kamu sudah geregetan, melihatku mengulang-ulang kebodohan, jadinya kebiasaan, katanya.   
Atau... entah dengan alasan lain yang  tak bisa aku utarakan.

Coba katakan dengan pelan atau lantang.
Titik butaku butuh ditemukan oleh seseorang.
Itu adalah kamu dan kamu.

Orang-orang yang mau dan mampu untuk mengatakan,
‘’Inilah titik butamu yang sukar kamu temukan!’’
Dan semoga di masa-masa depan,
kita kita akan saling membaik dalam perbaikan.

Karena banyak titik butaku dan kamu kamu yang sudah saling ditemukan! 

No comments:

Post a Comment