Baru

Pagi ini saya sengaja mampir ke SD saya untuk membeli martabak pesanan Ibu. Letaknya persis di depan gerbang muka sekolah saya itu.

Parahnya saya lupa kalau hari ini adalah hari pertama masuk sekolah pasca libur panjang lebaran, jadi jalanan menuju gerbang muka sangat padat, terutama oleh manusia berjenis ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya yang baru pertama masuk sekolah.

Ibu-ibu itu bergerumbul di depan pagar sekolah, mengawasi anaknya dari jauh sambil mengobrol bersama ibu-ibu lain. Kontan hal itu membuat jalanan depan SD penuh, apalagi ditambah hadirnya parkir dadakan untuk menampung motor-motor mereka yang tak muat masuk ke lapangan sekolah.

Seusainya saya membeli martabak, saya sengaja melewati jalur yang sama dengan saat saya berangkat, sekedar ingin mengenang masa SD saya.

Mungkin karena ini hari pertama, maka pukul 07.30 sekolah sudah bubar. Saya melihat banyak anak SD dengan kemeja seragam putih baru tanpa badge yang dikancingkan sampai leher, celana merah selutut khas SD yang terlihat rapi karena bekas setrikaan, dasi merah yang masih terang cap Tut Wuri Handayani-nya, kaos kaki putih baru yang ditarik sampai lutut, sepatu hitam kinclong yang baru disemir dan tas baru mereka yang kebesaran.

Diantara mereka, saya melihat seorang anak bergigi hitam gigis yang tak henti menyunggingkan senyum, sembari menggandeng tangan ibunya dengan atribut yang serba kebesaran, siap menghadapi hari baru.

Ah, jadi kangen masa-masa SD, dimana hidup sesederhana berangkat-pulang-main-mengerjakan PR dan cita-cita tahunya sebatas dokter, polisi, pilot dan guru.


Well, saya harusnya sesumringah anak SD bergigi gigis itu! (:

No comments:

Post a Comment