Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa Jika di dalam hutan
Rasanya baru beberapa bulan lalu saya baca buku Rantau 1 Muara milik A. Fuadi, waktu itu kebetulan pertama kalinya saya sampai di kota ini. Saya baca pelan-pelan pesan Imam Syafi'i itu dalam diam, dan tanda tanya besar muncul : apa benar?
Saat itu, saya rasa kiasan ini hanya untuk pelipur rindu orang-orang jauh yang sedang kangen keluarganya saja, yang tak bisa bertemu dalam waktu yang lama. Saya selesai membaca puisi itu dan membalik halaman selanjutnya sampai tetap menyisakan tanda tanya besar.. apa benar?
Memang waktu yang terlalu cepat berjalan atau bagaimana, tibalah saya sekarang di akhir semester. Rasanya baru kemarin mempertanyakan pepatah itu dengan penuh tanda tanya.
Alhamdulillah, sekarang tanda tanya itu mulai pecah...
Imam Syafi'i benar.
Now, I find them.
"Merantaulah... kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan."
***
No comments:
Post a Comment