Wit Randu

Ada kenangan yang akan selalu melekat saat kau melihat sesuatu. Bagiku, itu adalah pohon kapas yang sedang meletek, mengeluarkan kapas-kapasnya di kala kemarau. Memoriku kembali ke belasan tahun lalu bersama Mbahku.

Mbah & kapas, tidak akan terpisah.

‘’Nduk, ayo ewangi ngisi kapas ning bantal.’’ Ucapnya.

Sesepuh itu, kukira usianya sudah lewat enam puluh lima, mbahku masih giat melakukan berbagai hal sendiri, termasuk membuat bantal dan mengisinya dengan kapas yang dipanen dari kebun belakang rumah.

Aku pun manut, mulai mengisi sarung bantal pink kotak-kotak khas itu dengan kapas yang baru dipanen. Kututup hidungku dengan kain seadanya dan mulai meniru mbah mengisi sarung bantal dengan kapas, perlahan-lahan. Sesekali serat-serat kapas itu menggelitik hidungku hingga aku bersin-bersin, Mbah hanya bisa tertawa melihatku. Kami berakhir bersin bersama-sama..

Pekerjaan itu berlanjut di hari berikutnya hingga tuntas. Pengalaman pertama dan terakhir itu, akan selalu terpatri dalam ingatanku, sampai kapanpun.

Bagiku, selamanya saat aku melihat pohon kapas, aku akan selalu ingat masa-masa bersama mbahku dulu.

Begitu halnya dengan semua yang kulihat, akan selalu mengingatkan memori tentang sesuatu atau seseorang.

Rinduku pada Mbah, yang sekarang sudah tidak lagi bersama. 

Ah, mungkin, bantalnya masih ada..

No comments:

Post a Comment