‘’Suroboyo wani!’’
Tapi ndredeg sithik.
Kota kami aman, seperti yang sudah-sudah. Tapi, nahasnya
beberapa hari belakangan jadi santer teror.
Seperti yang sudah ditayangkan di televisi maupun berita di
media, dalam 1 hari terjadi 3 peledakan bom di beberapa gereja, 1 bom di
mapolrestabes, dan beberapa baku tembak & penjinakan bom di beberapa
tempat. Ngeri...
Saya turut berbela sungkawa bagi para korban atas insiden
ini.
Di grup-grup banyak broadcast
tentang profil pelaku teror, himbauan supaya tidak menyebarkan foto, maupun hoax. Semua campur aduk.
Saya?
Kebetulan saya sedang di rumah untuk mengurus keperluan ini
dan itu. Pagi itu, Senin, saya berniat mengurus SKCK di Mapolres.
Baru mau siap-siap, di televisi ramai breaking
news tentang peledakan Polres. Deg… saya kira hari Minggu lalu adalah akhir,
ternyata hanya awal teror. Saya mengurungkan niat. Hari itu saya berdiam di
rumah. Ibu masih melarang saya pergi-pergi.
Keesokan harinya saya memberanikan diri pergi ke Polres
(untuk pertama kali). Sesampainya di gerbang depan saya dihadang lebih dari 10
polisi berpakaian lengkap mulai rompi, helm, dan senjata
lars panjang…wew...
‘’Mau ngapain mbak?’’
‘’Ngurus SKCK, Pak.’’
‘’Buka tasnya, keluarkan semua isinya.’’
Saya manut.
Bapak polisi malah ngajak ngobrol dan beramah tamah sama saya. Si Bapak minta saya menunjukkan KTP dan SIM. Saya masuk dan terlihat kondisi Polres lengang. Hanya ada 3 atau 4 orang yang mengurus SKCK. Sisanya pegawai dan wartawan yang sedang liputan. Proses buat SKCK hanya sekitar 10-15 menit. Lalu saya fotokopi untuk legalisir.
Eh, di fotokopian ketemu Piyu Padi! Mas Piyu duduk di sebelah saya, orang-orang pada ngelihatin tapi kayaknya cuma pada mbatin.
Saya meninggalkan Mas Piyu & kembali masuk ke gerbang. Kali ini pemeriksaan masih sama, makin banyak wartawan, saya jadi objek foto dong berasa artis!
Bapak polisi malah ngajak ngobrol dan beramah tamah sama saya. Si Bapak minta saya menunjukkan KTP dan SIM. Saya masuk dan terlihat kondisi Polres lengang. Hanya ada 3 atau 4 orang yang mengurus SKCK. Sisanya pegawai dan wartawan yang sedang liputan. Proses buat SKCK hanya sekitar 10-15 menit. Lalu saya fotokopi untuk legalisir.
Eh, di fotokopian ketemu Piyu Padi! Mas Piyu duduk di sebelah saya, orang-orang pada ngelihatin tapi kayaknya cuma pada mbatin.
Saya meninggalkan Mas Piyu & kembali masuk ke gerbang. Kali ini pemeriksaan masih sama, makin banyak wartawan, saya jadi objek foto dong berasa artis!
Setelah dilihat-lihat, kok di gerbang nggak ada metal detector & pemeriksaan fisik kayak di bandara ya? Mungkin
ini perlu buat kemanan Polres kedepan.
Sorenya saya ketemu teman di daerah dekat rumah. Eh, menginjak
maghrib ada info di sekitar Manukan terjadi penggerebekan di rumah terduga teroris. Di rumahnya
ditemukan sejumlah rakitan bom. Manukan men!
Saya nggak nyangka jangkauan mereka sejauh ini. Manukan adalah
lingkungan padat penduduk. Kalo sampai bom meledak… keparnoan saya menjadi…
Setelah melihat berita itu, kami berdua luntang-lantung di tempat ketemuan selama beberapa jam, parno
sendiri, nelpon sana-sini sebelum akhirnya lelah dan pulang.
Ini pengalaman paling mencekam selama saya hidup di Surabaya dan semoga jadi yang terakhir kali.
Menyebarkan aksi teror begini, membunuh diri sendiri, dan
orang yang tak berdosa bukan dan tidak pernah ada dalam ajaran Islam... there must be something wrong...
Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya..
Allahuma inni asaluka
minjahdilbala’ wa darakisyaqoo’ wa suuil qodhoo’ wa syamaa tatil a’daa’….

No comments:
Post a Comment