A Blood Spring


Perang. Darah. Mayat.

Apakah bentuk solusi berupa perang merupakah harga mati?
Sumber kematian, iya.

Lihat, berapa juta nyawa wildan-wildan itu melayang?
Semestinya mereka bisa jadi hafidz-hafidz Quran cilik

Atau

Berapa juta nyawa Rajul-rajul itu menghilang?
Mungkin mereka sudah menjanjikan mahar untuk calon istri tersayang

Rumah. Kehangatan. Rasa Kenyang.
Bentuk ilusi durja dari wajah bersimbah peluh dan debu.

Apakah ketenangan sudah direnggut dari hak asasi?
Sayangnya, iya.

Lihat, berapa lama lagi bangunan di sudut perempatan itu akan bertahan?
Mungkin, tak lebih lama dari waktu makan siang kalian.

Atau

Berapa lama lagi kota itu jadi mati?
Mungkin tak lebih lama dari usia balita yang baru bisa berjalan.

Destruksi ini kian lama jadi biasa
Bahkan aku takut lama kelamaan jadi basi
Disini kita nyaman nyanggong di depan televisi, angkat satu kaki diatas kursi.
Disana mereka merana, anak kecil dipersenjatai angkat dua tangan pegang bedil.

Duh dunia,

Apalah yang bisa awak lakukan kecuali tak berhenti berdoa?
Semoga lekas kau akhiri derita mereka

Agar perang, darah dan mayat segera berhenti,
Agar rumah, kehangatan dan rasa kenyang cepat kembali,

Agar tak ada bedil yang terpaksa diangkat tuk habisi saudara sendiri. 

No comments:

Post a Comment