Mei adalah bulan penuh berkah, setidaknya menurut saya. Bisa dibayangkan kalau dalam sebulan ada 4 hari libur dan itu semua tertumpuk di hari Kamis, serta ekstra sehari lagi di hari Selasa? What a beautiful privillege.. apalagi buat anak rantau macam saya :'
Jadilah saya yang memang sedang ingin off dulu dari rutinitas ini untuk kembali pulang. Recharge tenaga dulu, meskipun ngisi batrainya lumayan jauh. Kalau kata peta sih 800 km++
Pulang kali ini sebenarnya cukup mendadak, saya diberi tiket hanya H-2 sebelum benar-benar berangkat. Jadilah saya berpacu dengan waktu untuk menyelesaikann tanggungan (baca : sedikit tugas) sebelum off duty selama kira-kira untuk 5 hari kedepan.
Setelah semua sedikit rampung, malamnya saya ambles di kasur, tidur tanpa persiapan, padahal besoknya harus berangkat pagi. Niatnya sih setelah beberes di pagi hari, langsung pergi ke stasiun KRL (Kereta Listrik) dekat kosan ke terminal bus Damri di Pasar Minggu untuk ke bandara, karena harga taksi yang bisa 5 kali lipat bus damri.
Eh, ternyata saya dicegat oleh para partner in crime saya di kamar. Niatnya mulia : Nganterin Aicha. Dan saya setulus hati iyakan, ''Tapi makan nasi uduk Pak Kosim dulu ya.'' FYI, Pak Kosim adalah penjual nasi uduk tercetar seantero Barel (Balik Rel), sebutan daerah kosan saya. Bayangkan, hanya dalam 3 jam, nasi uduk beserta kroni-kroninya akan habis dilibas massa. Makanya, saya tak mau ketinggalan, meskipun saya tahu, dengan teman akan memperpanjang waktu makan karena dibumbui ngobrol. Dan ternyata benar..
Mengantre dan makan, tenyata menyita waktu sekitar 45 menit. Saya juga belum ngeprint tiket, alhasil dalam perjalanan ke stasiun saya ngeprint tiket dulu.
Sampai di stasiun jam stengah 8 pagi, Saya baru sadar kalau itu waktu tersibuk orang-orang berangkat kerja. Jadinya saya takjub, 1 gerbong bisa memuat ratusan orang. Masing-masing menjejalkan dirinya supaya muat. Tidak ada space untuk sekedar bergerak. Bahkan, saya tak perlu berpegang pada gantungan supaya tidak jatuh, wong orang-orang itu menahan saya. Ada sensasi asyik didalamnya, tapi tetap saja kebanyakan dongkol : napas saja susah.
Sampailah di Pasar Minggu jam 8 pagi. Saya tergopoh-gopoh naik Damri, yang ternyata juga masih sepi orang. Setengah jam kemudian, bus itu baru berangkat.
Astaga, saya lupa kalau ini Jakarta, dan ini hari Rabu, dan ini jam stengah 9 pagi. Jadilah, bus saya melaju setengah hati : maju 2 meter, diam. begitu seterusnya sampai 1 jam kedepan. Saya sudah dag-dig-dug. Bagaimana bisa sampai jam stengah 10,bus ini masih berada di ruas jalan bernama Pasar Minggu? dengan cengok saya cek tiket :
''Oh, tidak.."
Jam keberangkatan : 10:55 WIB.
Saya lihat jam digital di bus : 09:45 WIB, dengan posisi : (masih) Jalan Pasar Minggu
Apa yang saya rasakan? Lemas seketika. Sekali lagi saya lupa bahwa ini Jakarta.
Oh, dan satu lagi : Saya juga belum check in!
Jadilah saya dibuat harap-harap cemas sepagi itu.
''Bisa sampai nggak ya. Aduh, kenapa berangkatnya kesiangan. Inget Woi, ini Jakarta. Harusnya jam 7 udah cus aja ke stasiun tadi. Nasi Uduknya mending bungkus aja.'' dan seabreg pengandaian lain yang makin memperkeruh suasana.
Intinya saya sudah siap 1 hal : Nggak jadi pulang karena ketinggalan pesawat.
Tapi saya juga nggak ikhlas, sayang tiketnyaaa x((
Dalam kondisi serba-serbi itu, saya cuma bisa merapal doa :
''Ya Allah, ini udah jam segini dan masih macet aja. Saya minta supaya jalanan ini engkau longgarkan agar busnya bisa ngebut dan jadi nggak telat sampai bandara ATAU pesawatnya delay aja ya Allah.. saya nggak pengen uang tiketnya mubadzir nih..'' Ya, kira-kira begitu
dan yang lebih ekstrem lagi :
''Ya, Allah, sekali ini tolong saya. Saya percaya kau maha kuasa atas tiap sesuatu, maka tidak ada yang tidak mungkin bagimu, bantu bus ini melaju kencang supaya saya tidak telat, tunjukkan kuasamu Ya Allah..''
Saya sudah pasrah, mau apa lagi? Sudah semepet ini dan masih saja macet. Akhirnya saya tertidur, saya rasa lama.. dan tiba-tiba saya terbangun. Segera melongok jendela dan melihat : Wow, ini entrance toll Bandara! Alhamdulillah.. saat itu sudah 10:20 di jam bus.
Saya kegirangan. Wow.
Saat kenek bus berteriak supaya penumpang terminal 1A bersiap, saya sudah ambil ancang-ancang lari dari pintu bus. Dan benar, saya marathon dari bus sampai ke counter check in
Petugasnya mengeryit ''10:55 ya mbak? Aduh, dipercepat ya!'' katanya.
Saya menuruti nasihatnya, dan sampai di Gate A9 tepat pukul 10:30, 25 menit sebelum pesawat membawa saya 800km menjauhi tempat ini.
Alhamdulillah. Once again, you show your power towards me..
Dan, it has been PROVEN, kalau kuasaNya, mengalahkan segala sesuatu termasuk barang remeh temeh macam macet, apalagi yang lebih besar, bukan? :)
No comments:
Post a Comment