2014.
Dikatakan tahun berpengharapan, karena yang lama akan
berganti, setelah duduk sekian tahun di tampuk kepemimpinan.
2014.
Diharapkan membaik, mengubah posisi yang dibawah menjadi
setara, yang diatas menjadi berani menunduk untuk sejajar.
2014.
Realita tergambar tajam saat bendera supremasi partai
berkibar-kibar sombong di jalan-jalan protokol, gang-gang sempit perkampungan,
iklan-iklan di televisi, sampai pada stiker mencolok angkot yang wara-wiri
setiap hari.
2014.
Saat-saat krusial portal berita berlomba-lomba mengabarkan
kondisi politik yang terdepan, tercepat dan terhangat untuk para pemirsa
sekalian, agar tak bosan rupa-rupanya.
2014.
Tahun menentukan. Kata jargon politis “1 hari yang
menentukan 5 tahun masa depan’’
2014.
Hati-hati! Banyak yang akan cari muka!
2014.
Fenomena makin menggila. Hak asasi memang untuk bersuara.
Abang baso dan ojek mulai gerah, nyaleg dilakoninya
juga.
2014.
Kisruh surat dan bilik suara. Jutaan diantaranya menghilang
tanpa jejak. Kiranya ditunggu, pemilu tinggal kedipan mata lamanya.
2014.
Prediksi-prediksi mulai muncul. Satu per satu diramalkan
dengan angka-angka magis, dijadikan peringkat tangga. Siapa lebih unggul dari
siapa.
2014.
Artis-artis dangdut panen saweran. Disewa sana-sini ‘tuk
hibur calon suara potensial.
2014.
Usaha-usaha percetakan kaos, spanduk, bendera, dan tetek bengeknya kebajiran bah duit. ’Sering-sering saja Pemilu’ batinnya.
2014.
Tak henti-henti nomor-nomor dan nama-nama asing diikrarkan
sebagai agen perubahan. Tidakkah kau bosan dengan wajah yang itu-itu saja?
2014.
Semoga angka 28,5 juta orang miskin tak benar-benar benar
sejumlah itu.
2014.
Semoga janji-janji akan terpenuhi, kasihan, rakyat sudah terlalu
sering dipecundangi.
2014.
Semoga bukan sekedar angka tanpa ada yang berubah (padahal
banyak yang mengaku jadi agen perubahan).
2014.
Semoga pengharapan tak sekedar jadi pemanis semata. Amin.
No comments:
Post a Comment