Sekarang-sekarang ini saya makin banyak bertanya. Apa gerangan yang terjadi disini, di Negara yang tak sanggup menahan arus globalisasi yang menguat-hari demi hari. Tantangan apa yang harus dihadapi dan bagian mana saja yang ‘tersentil’ oleh hal itu?
Akhir-akhir ini saya mengamati fenomena unik. Terjadi didalam sebuah benda kubus, sekarang bertransformasi jadi layar datar, berwarna-warni dan menjadi hiburan favorit dalam segala waktu. Televisi. Berisi aneka macam acara yang ‘menghibur’. Yang marak kali ini apalagi kalau bukan acara musik? Hampir semua stasiun televisi berlomba menjadi yang paling terdepan dalam menyambut debutan baru, semilir angin segar dalam dunia entertain.
Buktinya? Memang banyak sekali wajah baru bermunculan, menyemarakkan gegap gempita dunia yang tak pernah surut itu. Yang menuntut semua serba cepat. Taktis. Dan menghibur tentunya. Namun sayangnya, tuntutan ini seolah sebagai ‘deadline’ yang mengerikan. Menuntut orang-orang didalamnya untuk survive dengan beragam cara. Termasuk meniru-memplagiat. Tanpa proses panjang tentunya, lah wong cuma copy paste kok.
Yang membuat kadang saya terpingkal melihat aksi yang ‘jauh panggang dari api’ ini. Maksud hati meniru, apa daya tangan tak sampai..
Yang mencetak pundi-pundi rupiah dengan cara instan. Tanpa sibuk berpikir bagaimana menjadi trendsetter, bukan follower. Yang saya tanyakan satu : orisinalitas.
Dimana orisinalitas yang senantiasa menjadi ruh sebuah karya? Terselip? Tersembunyi? Atau.. hilang karena tunutan komersial? Wow, amat disayangkan. Dan memang sayang karena itu sudah terjadi. Dan banyak masyarakat yang terpana oleh kegiatan copy paste ini, yang secara tak langsung turut melanggengkannya.
Takut?
Yang saya takutkan dari plagiat-copy-paste karya ini adalah matinya semangat orisinalitas, keaslian. Bisa jadi lama kelamaan hanya akan ada doktrin tiru meniru. Lalu apa jadinya dengan bangsa yang telah terbiasa meniru tanpa ada pembaharuan? Iya kalau yang ditiru itu bagus, sesuai sama ideoogi. Nah kalau tidak? Yaa, tersesat bersama-sama. Bunuh diri massal.
Melanggengkan tiru meniru-copy paste-plagiat sama saja membunuh orisinalitas suatu bangsa, apa yang tercipta hanya olahan packaging saja. Tak lebih. Bagaimana kalau ini berlanjut tak berkesudahan? Yah, nyemplung dalam maze di taman sesat bersama-sama. Dimana orisinalitas terkungkung, dimana ide untuk menjadi ‘berbeda’ stagnan disana, dan dimana kemampuan untuk menjadi trendsetter hanya mandek jadi follower saja. Sayang kan? …
Sayangnya, kita masih terlalu muda untuk hanya mengeluh soal ini. Kalau bukan kita? Siapa lagi yang mengakhiri krisis copy-paste-plagiat ini? Mau tersesat bersama? Enggak ah… Mau bunuh diri massal? Enggak juga.. Nah, start from now, let’s act in our own way. The way originality speaks, the way originality survives to be a trendsetter, not only a follower…
No comments:
Post a Comment