Hari Minggu lalu saya melakukan
rutinitas pagi-jalan-jalan subuh-bersama Bapak dan Ibu. Rute kami tidak begitu
jauh, hanya mengelilingi daerah sekitaran rumah yang jaraknya kurang lebih 2
kilometer. Lalu biasanya kami mampir ke pasar kalau Ibu sedang ingin belanja.
Kebetulan hari itu akan ada tamu Ibu dari luar kota yang akan mampir ke rumah,
otomatis kami perlu berbelanja untuk suguhan makan siang dan snack.
Seperti yang sudah-sudah, saya dan Bapak kebagian menjadi
tim hore dan kuli angkutnya Ibu. Kami berdua mengekor kemana Ibu pergi, ke
tukang sayur, ke tukang kerupuk, ke tukang tempe-tahu sampai ke tukang buah. Takjubnya,
Ibu bisa menawar harga dagangan mereka dengan cerdik, saya sampai tercengang
dengan kemampuan tawar-menawar Ibu yang dahsyat hehehe.
Sampai di tukang sayur, saya melihat ada sedikit keanehan
dengan dagangan yang dijual. Ada banyak jenis sayur yang dijual, tidak aneh,
ada bayam, kangkung, timun, tomat, sawi, kalian, lombok, kubis, dan teman-temannya. Keanehan terjadi pada wortel. Disitu
ada 2 jenis wortel yang berbeda sekali. Satu kurus-layu-pucat dan satu lagi gemuk-segar-cerah. Setelah
disinyalir, ternyata wortel kurus itu wortel lokal dan satu lagi wortel impor. Deg.
Saya sedikit terenyuh.
Perbedaan dua wortel tadi kontras sekali, satunya kurus,
satu lagi gemuk dan menyenangkan. Satunya layu satu lagi segar, satu pucat
dengan orens yang tidak begitu orens, satunya lagi berwarna orens cerah. ‘’Wortel
lokal juga gampang bosok, Cha.’’ kata
Ibu saya.
Secara keseluruhan, wortel impor sangat menyenangkan
kalau dipegang, dilihat, dan dimasak (kata Ibu).
‘’Sing
impor luwih cepet empuk lak di godhog.’’ (Yang impor juga lebih
cepat empuk kalau direbus).
Dari segi harga, wortel impor memang lebih mahal, Rp
21.000/kg, dibanding wortel lokal yang Rp 16.000/kg. Namun menurut saya,
selisih harga itu sah-sah saja karena wortel impor lebih unggul dibanding yang
lokal.
Ini bukan saya mendiskreditkan barang lokal dan
mengunggulkan barang impor lho ya, tapi faktanya memang begitu.
Apakah ini terjadi pada wortel saja? Sayangnya enggak,
masih ada bawang, kentang, tomat, cabai, dan seabrek sayur impor lain yang
meramaikan pasar pagi itu. Apakah ini terjadi di pasar yang menjual sayur mayur
saja? Sayangnya enggak, masih ada pasar-pasar dengan barang lain yang bernasib
sama, impor merajalela, produk lokal kalah saing. Sad but true.
Sedih sih saya melihatnya, kenapa produk kita kalah ‘kinclong’
dibanding produk impor sana, sayur mayur lagi, di Indonesia lagi, yang katanya
negara agraris.
Sebetulnya inilah PR besar kita di kedepan, pengembangan
produk lokal supaya kualitasnya bisa bersaing di pasar mancanegara-wabil khusus
ASEAN-untuk menghadapi MEA yang berlaku mulai 2016 ini.
Dimulai dari wortel-produk yang saya yakin kita bisa
kembangkan dengan penelitian kontinyu dari kawan-kawan kita di bidangnya
tadi-bukan tidak mungkin masa depan sayur mayur Indonesia akan lebih kompetitif
dibanding asal negara pengekspor wortel tadi. Kuncinya kita musti usaha dan
optimis, tul?
Saya berharap beberapa tahun lagi ketika pergi ke pasar
bersama Ibu, wortel-wortel lokal sudah bisa segemuk, sesegar, dan secerah
wortel impor dengan harga yang lebih kompetitif dan Ibu tidak perlu mengeluh
lagi pada wortel lokal yang cepat busuk! (y)
Ga juga cha. Wortel (atau sayur dan buah) indonesia ada yang bagus dan tidak sedikit. Dan, inilah dunia, di (sebagian) luar negri boleh jadi yang terjadi sama, mereka melihat wortel lokal mereka layu dan wortel impor (asal indonesia) yang segar menggoda. Inilah ekonomi, di luar negri mampu membeli lebih mahal dr pada di negri sendiri. Itulah kenapa wortel bagus kita ga ada di pasar tradisional surabaya.
ReplyDeleteWortel bagus indo ada juga yg ga going abroad. Mereka biasanya stay di pasar modern besar lalu berkamuflase jadi wortel bangkok atau apalah. Mereka sebenernya bukannya malu pake nama lokal, mereka cuma mau laku. Itu aja.
Kamu seharusnya lebih faham itu dari pada aku. Hehe
Source : hasil ngobrol dengan mba-mba dari PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) dan mas-mas IPB