Kering

Siang itu saya menyetel saluran televisi lokal yang sedang menayangkan acara berita. Beberapa topik jadi headline, salah satunya kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia.

Liputan itu menyetelkan video ibu-ibu di daerah Nusa Tenggara Timur yang sedang antre air bersih di dekat sebuah truk. Belasan jerigen menemani antrean mereka. Tidak disebutkan berapa harga yang harus mereka bayar untuk setiap jerigen air yang dibeli selama 3 bulan terakhir.

Lalu video lain menampakkan seorang petani paruh baya yang menunjukkan seikat padi. Padi itu layu, selayu wajah petani tadi karena sawahnya gagal dipanen karena kekeringan. Padi tersebut tidak menunjukkan bakal tumbuh bulir-bulir sebagaimana mestinya. 

Mengakhiri video tadi, narator mengatakan bahwa peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengentaskan kekeringan yang melanda beberapa wilayah di negeri ini. 

Selepas menonton liputan itu, saya pergi ke kamar kecil. Disini kalau butuh air tinggal buka keran, lalu derasnya air melimpahi bak penampungan di kamar mandi. Semudah itu. 

Kalau mau cuci piring juga sama, tinggal putar keran air di bak cuci piring, air mengalir dan beres. Cuci baju? Sama mudahnya.
Jadi terbayang mereka yang harus sesusah itu mendapatkan air.

Secara otomatis tangan saya mulai mematikan keran saat meninggalkan kamar mandi supaya air tidak luber-luber.

Karena ada banyak orang di luar sana yang bahkan harus membayar untuk setiap tetesnya.



No comments:

Post a Comment