Awan Putih


Aku adalah kapas-kapas pucat yang mengambang di atas bumi
Aku selalu suka menyeka keringatku yang turun bertubi-tubi
Aku suka diatas sini,
Melihat semut-semut itu sibuk sendiri
Belari kesana-kemari tiada henti
Seakan dunia punya mereka sendiri

Aku adalah gulali berwarna bersih yang terapung saat kau mendongak
Aku selalu suka menyendiri
Karena aku aman di ketinggian sini,
Aku suka mengamati kalian
Yang suka duduk berdua-duaan di pojokan taman
Tak peduli ada seribu pasang mata memata-matai
Termasuk sepasang milikku

Aku adalah uban nenek tua yang berhenti di lantai transparan
Kau bisa lihat aku saat kau lihat mentari, sahabat karibku
Nenek tua itu sengaja memotong rambutnya (yaitu aku)
Karena dianggapnya merusak gaya
Maka jadilah aku yang suka mengintipmu
Marah-marah saat terjebak macet

Aku bisa kau lihat saat kau sadar bahwa kau selalu hidup berteman
Saat kau tak sadar maka kau tak bisa lihat aku
Yang aku butuh Cuma sekedar dongakkan kepala
Maka kau akan lihat aku
Kau akan lihat kelinci, bentuk hati atau mungkin wajahmu sendiri disana
Kau bisa berkaca!

Ya, aku adalah awan putih
Yang mengambang, terapung atau berhenti di atas
Kalau aku turun.. kau akan menyalahkanku sebagai kabut
Tapi aku baik,
Kupersilahkan kau naik
‘tuk seberangi pulau-pulau
Walaupun aku merasa sedikit geli.

No comments:

Post a Comment