Masa lalu.
Ini cerita dari bapak saya tentang seseorang dan masa lalunya.
Alkisah orang ini adalah orang yang miskin, hidup harus diperjuangkan untuknya bahkan untuk sekedar makan. Setiap hari sarapan yang layak hanya bubur saja. Jangan bayangkan bubur ayam spensix dengan ati ampela yang menggoda. Bubur disini didefinisikan sebagai beras yang diencerkan dengan air yang sangat banyak sehingga beda bubur dan air hanya tinggal warna. Hanya cukup untuk memenuhi perut dan harus disimpan sampai berjam-jam kemudian. Ya, begitulah hidupnya.
Sampai waktu yang bercerita dan tak terasa kini orang tersebut sudah jadi orang besar. Hidupnya berkecukupan dan mapan. Sampai kisah ini diturunkan, tak ada yang tak bisa ia beli.
Suatu ketika ia bercerita, puluhan tahun setelah kebiasaan sarapan bubur itu berlangsung. "Aku sebenernya gak suka makan bubur." katanya. Ya, ternyata ia baru mengungkapkan hal itu setelah sekian lamanya. Lalu ketika itu bukankan ia selalu makan dengan hati dongkol karena sebenarnya ia bukan pecinta bubur?
Hidup berubah. Waktu berjalan. Ia mendendam. Ia merasakan ketidakadilan dalam hidupnya. Ia bertekad bulat untuk berubah. Merubah hidupnya yang serba kekurangan menjadi serba kelebihan. Dan nyatanya ia berhasil. Takkan dibiarkan anak-anaknya menderita sebagaimana yang ia alami. Takkan ia biarkan anak-anaknya makan bubur encer lagi, mendendam berpuluh tahun untuk bisa katakan ia benci bubur.
Dan begitu dahsyatnya sebuah asa sampai tiba di titik yang ia damba. Hidupnya. Perjuangannya. Demikian kuat kemampuan dendam untuk bisa terbalaskan. Kini, bubur encer itu tinggalah sebuah cerita. Dan butuh waktu lama untuk dapat mengungkapkan apa yang selama itu tertahan di lidah.
No comments:
Post a Comment