Niece



            Libur lebaran kemarin tepat setelah H+2 saya mudik ke Jombang, ke kampung halaman & kelahiran. Waktu cukup singkat karena bapak akan masuk hari Senin tanggal 5 nya. Dalam hati saya berjanji akan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, Amien. Detail perjalanan tak usah saya paparkan disini, cukup membosankan dan bukan menjadi magnet pembicaraan saya kali ini.

            Sesuai judul, niece yang berarti sepupu kalau di terjemahkan. Nah, kebetulan saudara sepupu saya datang dari Pulau Seberang, Pulau eksotis bernama Bali. Sudah hampir 3 tahun mereka tidak mudik mengingat jarak Jombang-Bali yang memakan waktu 1 hari bermobil. Apalagi warga muslim di Bali adalah minoritas sehingga libur lebaran hanya 3 hari saja, bukan 2 minggu seperti di Surabaya atau Kota lain. Akhirnya Paman serta keluarganya memutuskan ‘bolos’ dari rutinitas sejenak.

            Paman memiliki 4 orang anak yang kesemuanya pintar, baik, penurut dan ramah. Mereka selalu suka tertawa. 1 lelaki dan 3 perempuan.

            Yang akan saya ceritakan adalah Reza, si lelaki anak sulung keluarga. Berusia sekitar 11 tahun sekarang duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Dia sangat pendiam, bicara seperlunya, sangat low profile dan suka tersenyum. Tidak neko-neko dan sopan terhadap semua orang. Selama 2 hari saya menghitung Reza hanya berbicara tak sampai 10 kali. Ia lebih banyak diam dan mengamati.

            Suatu hari Abahnya membawa laptop Compaq turun ke ruang tamu, riuh seketika karena semua sepupu yang berkumpul ingin main game. Lama sekitar 3 atau 4 jam, laptop terasa panas, mungkin karena terlalu lama. Akhirnya laptop tiba-tiba mati. Tanpa di komando Reza dengan cekatan langsung menghandle si laptop. Seketika laptop kembali sehat wal afiat. Tanpa banyak bicara ia bekerja. Saat ditanya pun ia lebih banyak tersenyum. Suatu ketika Budhe berkata,

“Za, kamu kok diem sekarang?”

“Iyo mbak, nggak onok omonge.” Tante saya menimpali.

“Reza itu bukan tipe pembicara, dia tipe pemikir.”Abahnya menjawab disertai tawa keras yang membahana. Reza pun hanya, bisa ditebak, tersenyum mendengar perkataan Abahnya.

***
“Reza itu bukan tipe pembicara, dia tipe pemikir.”

Dari petikan dialog itu saya mengambil intisarinya bahwa Reza itu bukan orang yang pandai bicara, dia tipe orang yang menggunakan pemikirannya yang tajam sebagai maneuver utama.

Bukan, bukan itu, menurut saya orang yang pendiam itu lebih bisa menjaga, mengontrol lisannya karena hanya bicara seperlunya dan sewajarnya. Mengurangi pembicaraan yang tidak perlu dan akhirnya menjerumus pada hal-hal yang tak semestinya. Mengindari lebih baik saya rasa dan menghindari perbuatan sia-sia itu ya dengan diam. Karena ada yang bilang bahwa,”Diam itu emas.”

 Dibuat di 3 September 2011 

No comments:

Post a Comment